Jakarta – Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sudah meminta kepada Dinas Perhubungan dan Transportasi (Dishubtrans) DKI Jakarta untuk mengeluarkan surat edaran berupa pencabutan izin usaha perusahaan taksi apabila perusahaan tidak memecat sopir taksi yang berunjuk rasa anarkis kemarin.

“Saya sudah minta di surat edaran ini. Logika saya sederhana, kamu kalau kerja di taksi, keluarkan mobil tanpa stiker kamu tahu tidak kamu ini jadi sopir taksi? Kamu mesti tahu. Jadi demo ini “direstui” perusahaan taksi.

Kalau direstui, kamu sudah perintah tidak boleh anarkis, makanya kalau anarkis perusahaannya tindak dong! Kalau tidak mau tindak, ya saya akan main keras,” ujar Basuki di Balai Kota, Rabu (23/3).

Surat Edaran (SE) tentang pemberian sanksi terhadap pengemudi taksi anarkis itu sendiri sudah ditandatangani oleh Kepala Dishubtrasn DKI, Andri Yansyah pada tanggal 22 Maret 2016.

Surat tersebut ditujukan kepada 34 perusahaan taksi yang berada di Jakarta.

Basuki mengatakan, permasalahan yang terjadi harus bisa disikapi dengan adil. Faktanya, masih banyak juga taksi-taksi resmi di DKI yang melanggar peraturan.

Aksi yang berujung anarkisme kemarin pun, disebutkan Basuki, sopir-sopir taksi tersebut diperalat dan dibodohi saja.
“Berapa banyak sopir taksi yang kaya raya? Masih lebih mahal gaji sopir bus DKI dibanding penghasilan sopir taksinya.

Kalau begini yang jadi masalah apa? Makanya ayo kita duduk bersama, kalau kamu (perusahaan taksi) tidak bisa turunkan harga kita duduk bareng, memang kesalahannya di mana? Kita bisa berdebat karena peraturan kita selalu telat,” katanya.

Basuki mencontohkan, apabila ada seseorang yang memiliki mobil pribadi lalu direntalkan tidak ada larangannya. Hanya saja, tindakan tersebut akan disebut melanggar apabila tidak melaporkan pajak penghasilan.

Padahal di dalam Undang-undang disebutkan, setiap warga negara harus mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan harus melaporkan SPT Pajak setiap tahun.

Namun masalah lainnya, kata Basuki, banyak masyarakat yang tidak berani menyewa taksi sembarangan karena alasan keamanan.

Fakta di lapangan juga, menggunakan taksi lewat aplikasi membuat masyarakat merasa aman kendati soal keamanannya pun belum tentu terjamin pula.

Hanya saja, katanya, para penyedia aplikasi ini merasa bukan perusahaan transportasi sebab mereka berusaha menemukan yang ingin memakai jasa sewa mobil, harian atau jam, dengan yang mempunyai mobil.

Perusahaan aplikasi juga disebutkannya milik asing dan penghasilannya juga sangat luar biasa.

“Logika begini, kalau harga BBM naik, tarif taksi juga minta naik, eh sekarang harga minyak turun, tarif turun tidak? Ini sopir taksi diperalat semua, aplikasi juga yang ambil untung orang asing. Makanya saya juga minta para sopir taksi, jangan bodoh diperalat orang,” pungkasnya.

Deti Mega Purnamasari/YUD

Referensi | http://m.beritasatu.com/megapolitan/356322-basuki-demo-sopir-taksi-direstui-perusahaan.html