Diet Mayo apaan sih? Tadinya saya percaya ini diet bikinan Mayo Clinic yang terkenal di US.

Saya memang sudah tahu tentang Klinik Mayo dan punya buku panduannya untuk kesehatan keluarga. Tapi setelah saya telusuri lebih lanjut, ternyata Mayo Clinic sendiri tidak pernah membuat menu diet seperti ini.

Apakah menu diet 13-hari yang beredar ini versi Indonesia-nya? Tidak tahu juga. Trus ngapain saya tetap mau ngejalanin diet yang ‘gak jelas’ ini?

Tentu saja karena kepepet. Belakangan ini rasanya saya semakin gendut aja. Badan rasanya lesu, gampang capek, dan susah konsentrasi.

Tanda-tanda penuaan juga semakin muncul: uban tambah banyak! Yang lebih parah lagi, saya jadi nggak pede memasang foto-foto liburan di blog traveling saya karena kegendutan. Duh, kalau begini caranya, bisa hancur karier saya sebagai travel blogger😀

Berat badan saya sebelum diet mencapai 56,8 kg. Ini sama dengan BB waktu hamil Little A. Mungkin ada yang nanya, “Haduh, berat segitu kok merasa gendut sih?”

Bagi orang dengan tinggi badan ‘normal’ mungkin berat badan segitu masih normal dan baik-baik saja. Tapi nganu, saya kan tinggi badannya bahkan tidak mencapai 150 cm *ngumpet di pojokan*

Salah satu cara untuk mengetahui apakah berat badan kita ideal adalah dengan menghitung BMI (Body Mass Index) atau istilah bahasa Indonesia IMT (Indeks Massa Tubuh). Rumus BMI = berat badan (kg) / (tinggi badan x tinggi badan (m)).

Contoh: BB saya 56,8 kg, tinggi badan saya 1,49 m. BMI saya = 56,8 / (1,49 x 1,49) = 25,58.

BMI untuk berat badan ideal antara 18,5 sampai 25. Jadi ya saya memang di ambang kelebihan berat badan. Belum parah, tapi rasanya sudah nggak nyaman.

Sebelum mencoba diet mayo ini, saya sudah rajin minum green smoothie (jus buah dan sayur) setiap pagi. Tapi belum ada efek menurunkan berat badan karena saya sering nggak teratur makan siang dan kadang makan junk food.

Ada lagi kebiasaan buruk saya yang lain: seneng minum teh dalam kemasan yang manis banget itu.

Balik lagi ke diet mayo, katanya diet ini bisa menurunkan berat badan kita dengan cara membuang kelebihan air dalam tubuh.

Menu diet mayo tanpa garam, yang selama ini mengikat air dalam tubuh. Selain itu, kalori dalam menu diet mayo juga hanya sekitar 800-1200 KKal sementara sesuai berat badan, saya membutuhkan 1500 KKal setiap harinya.

Gampang banget sih aturannya: kalau ingin menurunkan berat badan, asupan kalori harus lebih sedikit dari yang dibutuhkan. Kalau ingin menambah berat badan, lakukan sebaliknya, makanlah dengan kalori lebih dari yang dibutuhkan.

Awalnya ngeri juga memutuskan mau menjalani diet ini, sudah membayangkan masakan hambar tanpa garam. Pernah terbersit juga apakah diet ini aman.

Tapi setelah saya lihat menu diet mayo 13 hari yang banyak ditemukan dengan meng-google, bahan makanan yang disarankan tidak aneh-aneh, semua makanan biasa dan sehat, tanpa obat-obatan atau bahan kimia lain, semua juga dalam jumlah yang wajar.

Setelah mantap memutuskan untuk diet mayo, saya berbelanja bahan-bahan untuk tiga hari pertama.


__|menu diet mayo yg saya dapat dari googling|__

Di google, ada dua versi menu diet ini, yang menggunakan kentang dan yang sama sekali tidak menggunakan kentang atau karbohidrat lain.

Saya menggunakan menu kedua, karena lebih sesuai dengan prinsip food combining, karbohidrat jangan dicampur dengan protein hewani. Tidak ada menu dengan nasi dalam diet ini. Tapi saya nggak terlalu tergantung dengan nasi sih.

Dua hari pertama berjalan dengan lancar. Saya malah senang karena menu makan saya sudah jelas, tidak perlu mikir lagi. Memasaknya pun lebih mudah.

Rasanya memang lebih hambar karena tanpa garam, tapi lama-lama lidah saya jadi terbiasa merasakan rasa asli dari setiap bahan makanan. Saya lebih bisa merasakan pahit, manis, gurih dan segar.

Acara makan saya menjadi lebih tenang, tidak tergesa-gesa. Saya perlu waktu 30 menit untuk mengunyah sayur-sayuran yang ada dalam menu. Saya juga jadi banyak minum air putih, setidaknya 2 liter sehari.

Setiap pagi, saya mengisi dua botol kaca satu literan dengan air putih. Ketika sore hari dua botol tersebut sudah kosong, artinya saya sudah cukup banyak minum air.

Setiap kali saya merasa lapar, saya minum air putih. Oh, iya, air putihnya jangan yang dingin ya, harus dalam suhu kamar. Kita harus berhenti makan sebelum jam 6 sore. Saya biasanya mulai ‘makan malam’ jam 5 sore.

Saya senang menjalani diet ini karena hasilnya langsung kelihatan. Dalam sehari, berat badan saya turun setengah kilo, sampai hari kelima. Setelah itu ada penurunan berat badan tapi cuma sedikit demi sedikit.

Di akhir minggu pertama, ada tantangan berat karena ada undangan makan-makan keluarga, di restoran padang lagi, hahaha. Tapi saya nggak tergoda, tetap datang tanpa makan sama sekali, hanya minum air putih. Tabah banget ya, hahaha. Pokoknya niatnya dikuatin aja, jangan gampang tergoda kenikmatan sesaat😀

Mengikuti diet ini juga harus ketat, tidak boleh curang (cheating) sedikit pun. Kalau sampai cheating, kita harus mengulang diet ini dari awal, hari pertama. Duh, kalau saya sih ogah banget mengulang, makanya bisa tahan sama godaan.

Di awal minggu kedua, saya merasa perut saya agak sebah (terasa penuh) karena tidak BAB (buang air besar) dalam dua hari.

Memang dengan diet ini katanya semua makanan terserap, jadi jarang BAB. Tapi saya buang air kecil sering banget, 8-10 kali sehari.

Saya senang banget bisa sukses menjalani diet ini, dan berat badan saya bisa turun 4,5 kg dalam 13 hari. Sekarang berat badan saya 52,3 kg dengan BMI 23,55, sudah masuk dalam rentang normal.

Ini belum dibarengi dengan olahraga sih. Tentu dengan tambahan olahraga, berat badan yang turun bisa lebih banyak lagi. Sayangnya saya tidak punya foto sebelum dan sesudah diet. Lagian gak enak ah pamer lekuk-lekuk tubuh, hehe. Yang jelas perut saya lebih rata sekarang, nggak kayak orang hamil😛

Ada yang kepengen nyoba diet mayo juga? Ini tip dari saya, good luck!

1. Selalu bersyukur atas apapun menu yang dibelikan. Alhamdulillah masih boleh makan butter, meski yang unsalted, misalnya.

2. Beli bahan-bahan terbaik, meski mahal. Saya menggunakan sayuran organik, buah premium, telur ayam kampung dan daging steak Australia (hahaha, kesempatan!). Modal dikit lah, cuma 13 hari kan. Masih lebih murah kok daripada pesan katering atau beli produk pelangsing.

3. Save the best for last
Dalam setiap menu pasti ada bonus kecilnya, yang enak dan manis. Biasanya saya makan dulu yang pahit atau tawar, kemudian yang manis enak belakangan: tomat ceri, buah pir, yoghurt, gajih steak *olalaa yummy*


__|menu makan siang hari ke-2 dan ke-9

caption
__|menu makan siang hari ke-3 dan hari ke-10|__


__|menu makan siang hari ke-4 dan ke-11


__|sarapan roti di hari ke-4 dan ke-11|__

__| disclaimer:
Tulisan ini bukan rekomendasi, hanya menceritakan pengalaman. Kalau mempunyai penyakit atau alergi bahan makanan tertentu, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi sebelum melakukan diet.

~ A.K.
@adekumala
|SUMBER ARTIKEL|