Muhammad Saihul Basyir bersama para juara saat penerimaan hadiah.


BERKAH AKRAB DG AL-QURAN, DAPAT HAJI DAN UMRAH GRATIS

BELAJAR diwaktu kecil itu, bagaikan mengukir di atas batu,” demikian Syeikh Hasal Al bashri pernah berkata. Hal ini dirasakan Muhammad Saihul Basyir.

Berkah mengakrabi Al-Quran semenjak kecil menyebabkan dia menjadi peraih juara kedua Musabaqah Hifzil Quran dan Hadits (MHQH) se- Asia Pasifik ke-5 yang disponsori Pangeran Sultan bin Abdul Aziz.

Muhammad Saihul Basyir menjadi juara kedua kategori hafalan 30 juz dalam acara yang diselenggarakan di Jakarta 11-14 Februari 2014 lalu karena berkahnya belajar Al_Quran pada saat kelas 6 Sekolah Darar (SD).

Sebelumnya, pada berbagai even kejuaraan hafalan al Quran tingkat kabupaten atau provinsi, namanya sudah tak asing lagi. Meski demikian, ia tetap berendah hati bahwa apa yang disematkan padanya hanyalah sarana mendekatkan diri pada Allah.

“Bagi saya, kejuaraan-kejuaraan itu sebagai sarana mujahadah, mengulangi hafalan sampai seberapa jauh kita mutqin (hafal sempurna),”tutur pria kelahiran Jakarta, 10 Januari 1996 itu.

Kejuaraan yang baru seminggu berakhir itu, merupakan pengalaman kejuaraan internasionalnya yang ke-2.

Sebelumnya, anak kedelapan dari sepuluh bersaudara itu pernah mengikuti kejuaraan hafalan internasional di Jeddah, Arab Saudi. Walaupun tidak menggondol gelar juara, kesempatan itu dipakainya untuk menguatkan hafalan.

Tak heran, walau persiapan MHQH dilakukan Basyir-panggilan Saihul Basyir, tiga hari menjelang perlombaan, Ia tetap tenang menyambung ayat yang diberikan oleh juri asal Madinah, Syeikh Abdul Muksin bin Muhammad al Qasim dan Syeikh Abdullah al Jarullah.

Keikutsertaannya pada MHQH dimulai saat Ia terpilih memenangkan juara pertama MHQH tingkat nasional, pertengahan Januari lalu. Itupun, diakui Basyir, khidmatnya pada sang guru menjadi motivasi utama. Guru hafalan Quran di pesantren meminta Basyir menemani beberapa orang adik kelasnya untuk mengikuti kompetisi yang sama. Tidak disangka, justru Basyir-lah yang menjadi pemenang.

“Mau gak mau saya harus lanjut ke tingkat ASEAN dan Pasifik. Tapi tetap saja, persiapannya di sela-sela try out UN,”ungkap pehobi futsal yang kini duduk di kelas XII Pesantren Terpadu Darul Quran Mulia, Bogor ini.

Berkah hafalan membuat ia kini mendapatkan hadiah menggiurkan berupa Haji dan Umroh secara gratis ditambah uang sebesar 15 Ribu Real (sekitar Rp 40 juta).

Meski demikian ia mengaku hadiah bukanlah tujuannya dari menghafal Al-Quran.

“Saya biasa saja, benar-benar nggak ngejar itu sama sakali. Kalau dapat, alhamdulillah, berarti saya harus mempertahankan hafalan. Kalau belum menang, berarti hafalan belum lancar,”tutur Tapi anak pasangan Mutamimmul Ula dan Wirianingsih ini.

BERKAH PENGABDIAN

Selain Basyir, adapula Milzam Priambodo. Peraih juara pertama lomba hafalan Hadits MHQH ke-5.

Milzam mengucap rasa syukur atas kemenangannya. Murid Pondok Pesantren Al Irsyad, Kediri, Jawa Timur itu memilih perlombaan kategori itu karena Ia terbiasa menghafal 500 Hadits terpilih yang digunakan sebagai soal ujian MHQH.

Ia menceritakan, kemampuan hafal hadits karena kebiasaan mencicil satu-persatu secara sabar. Di sela-sela program pengabdian di pesantrennya, setiap hari ia manfaatkan mencicil hafalan hadits.

“Saya menghafal lalu teman mendengarkan,”tuturnya. Kemudian Ia menambahkan, menghafal hadits berbeda dengan menghafal Al-Quran.

Remaja 20 tahun itu mengakui, selain kemampuan berbahasa Arab, menghafal hadits juga memerlukan intonasi nada.

“Sama seperti dialog, ada intonasi cepat, lambat dan kalau kita marah juga terdengar,”ulasnya. Selain itu, kesalahan satu huruf saja, akan membuat rancu dengan ratusan Hadits lainnya yang mirip. Penghafal Hadits tentu perlu mengingat detil susunan periwayat hadist sampai tersambung pada Nabi Muhammad salallahu’alayhi wassalam.

Walaupun sempat vakum menghafal Hadits selama dua tahun, namun Milzam terus menggenjotnya manakala mengetahui hikmah dari menghafal sunah Rasulullah tersebut.

Pria sulung dari empat bersaudara itu menyadari prestasi ini buah kerja keras orangtuanya. Walaupun tidak memiliki latarbelakang pendidikan keagamaaan, Bapak dan Ibu Milzam yang kini tinggal di Malang, Jawa Timur, memasukkan keempat anaknya ke sekolah berbasiskan nilai Islam di berbagai kota.

Hadiah Haji dan Umroh gratis beserta 10 ribu Real (sekitar Rp. 27 juta), akan dipergunakan sebaik-baiknya. “Belum tahu mau diapakan uangnya. Kalau Bapak-Ibu mau ambil semuanya, ya silahkan. Tapi insya Allah, nggak. Orangtua paham,” Milzam menjawab dengan senyum sumringah. Sebagian uang itu akan ditabungnya sebagai bekal jangka panjang. Sama seperti Basyir, Milzam berharap bisa kuliah di Universitas Islam Madinah (UIM).*

Rep: Rias Andriati
Editor: Cholis Akbar

Referensi | http://m.hidayatullah.com/feature/catatan-dari-mesir/read/2014/02/23/17026/berkah-akrabi-quran-jadi-juara-dan-dapat-haji-dan-umroh-gratis.html