keajaiban ayat 1000 dinar

Bismillah hirrohman nirrohim.

Tersebutlah ada seorang saudagar yg kaya raya (pada jaman dahulu) mengalami “mimpi” di suatu malam.

Di dalam mimpinya saudagar itu didatangi oleh seorang kakek tua berjubah putih. Dan kemudian memberikan semacam “perintah” kpd saudagar tersebut.

Kakek tua : “Nak… cobalah besok pagi kamu bersedekah sebesar 1000 dinar…”

Di dalam mimpi saudagar itu hanya terdiam hingga kemudian dia bangun dikeesokan harinya.

Dan di keesokan harinya sang saudagar itu tidak terlalu “memperdulikan” mimpi yg dialaminya, karena menganggap mimpi biasa saja. Dia melupakannya begitu saja.

Lagipula (pada jaman dahulu) nilai 1000 dinar sangatlah besar. Sebagai seorang yg kaya raya, dapat dipastikan saudagar itu “paham betul” arti mengelola keuangan / kekayaan. Itu sebabnya saudagar itu “mikir-mikir” untuk mengeluarkan dana besar hanya untuk melaksanakan sebuah “mimpi”.

Saat malam hari tiba (di malam kedua), sang saudagar bermimpi lagi dengan mimpi yg “nyaris sama” dg mimpi kemarin malam. Kakek tua berjubah putih datang lagi dan memberikan “perintah” kepadanya.

Kakek tua : “Nak… cobalah kamu keluarkan kurban 1000 dinar…
“Jika nilai itu terlalu besar untukmu, maka dicicil saja… tidak perlu menunggu harus terkumpul 1000 dinar…”

Sang saudagar terbangun karena mimpi itu. Sedikit kaget karena Kakek Tua yg sama datang lagi.
Tapi… lagi-lagi dia tidak memperdulikan mimpi itu. Untuk apa menuruti kemauan dari orang yg tidak dikenal..? Apalagi di dalam sebuah mimpi… ah.. B*llsh*tt…!!

Di malam yg ketiga, mimpi yg sama dialami sang saudagar.

Kakek tua : “Nak.. cobalah keluarkan zakat 1000 dinar…
“Tidak perlu menunggu harus terkumpul 1000 dinar.. 1 dinar juga tidak apa-apa, sebagai “Pembuka”….”

Pagi harinya sang saudagar termenung. Dia mengalami mimpi yang “nyaris sama” selama 3 malam berturut-turut. Yang intinya, saudagar itu diminta untuk berdekah | kurban | zakat dengan nilai 1000 Dinar.

Karena penasaran, akhirnya saudagar itu menjalankan perintah yg didapat dari mimpinya. Dia keluarkan dana sebesar 1000 dinar untuk didistribusikan kpd orang-orang yg tidak mampu.

Setelah sang saudagar melaksanakan perintah mengeluarkan dana 1000 dinar, maka saudagar itu bermimpi lagi di malam harinya. Lagi-lagi mimpi “yg sama”.

Kakek tua : “Nak.. bacalah ayat ini.. dan amalkan..

===================================
Bismillah hirrohman nirrohim.

wamay-yat-taqillah… yaj-‘al  lahu  makh-roja…
wayar-zuq-hu  min  hai-tsu  la  yah-tasib…

wamay-yatawak-kalu  ‘alalloh… fa huwa hasbuh…
innalooha baalighu amrih… qod ja-‘alallohu  li kulli  syai-in qod-ro…

:: Surat At-Tholaq ayat 2 dan 3 ::
==================================

Pada saat terbangun di keesokan harinya, sang saudagar pun membaca dan mengamalkan ayat yg didapatkan dari mimpinya itu. Dia coba baca ayat tersebut di kala senggang… kadang pula dijadikan wirid sehabis sholat.. (Ada yg menyebut dengan istilah di-dawamkan .red)

Disebutkan dalam dongeng ini, setelah sang saudagar mendapatkan “amalan doa/ayat” dalam mimpinya, maka dikisahkan saudagar itu melakukan perjalanan dalam rangka usaha/bisnis/perniagaan.

Sang saudagar pergi ke negri yg cukup jauh untuk berniaga dengan menaiki kapal laut.

Di tengah samudera, ternyata cuaca buruk dialami oleh sang saudagar. Hujan dan badai melanda jalur yg tengah dilewati oleh kapal yg ditumpanginya.

Ombak tinggi dan petir terus menerus menerjang kapal, hingga dikisahkan kapal tersebut karam di tengah samudera.

Entah bagaimana “nasib” para penumpang di dalam kapal yg karam itu, dan entah pula nasib sang saudagar.
===================================

Tetapi ternyata Allah memang “ada”. Allah “bekerja” dalam “sistem kehidupan” alam semesta. Dan “peran Allah” tidak bisa dilepaskan dari “setiap detil” kehidupan kita.

Diceritakan sang saudagar terbangun dari pingsannya.
Tiba-tiba sang saudagar menyadari bahwa dia telah pingsan untuk beberapa waktu lamanya. Dan sekarang dia berada di sebuah pantai.

Ya.. setelah kapal itu karam di tengah samudera, entah bagaimana “ceritanya” sang saudagar pingsan dan terdampar di suatu tempat, yang ternyata… tempat itu adalah lokasi yg ditujunya.

Sang saudagar bangun tersadar dari pingsannya, dan dengan keadaan “tidak kurang suatu apa”. Semua barang dagangannya masih “lengkap”.
Tidak ada sedikit pun luka yg dialaminya, bahkan baju yg dikenakannya tidak basah sedikitpun.

__| Refferensi ayat | Asbabun Nuzul QS At-Tholaq 2-3

Terdapat beberapa riwayat yang menyebutkan tentang asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya) ayat seribu dinar ini.
Diantaranya adalah :

Dalam suatu riwayat dijelaskan bahwa ayat 3 surat At-Tholaq ini turun berkenaan dengan seorang suku Asyja’ yang fakir, dan banyak anak.

Ia menghadap Rasulullah SAW dan meminta bantuan beliau (tentang anaknya yang ditawan oleh musuh dan tentang penderitaan hidupnya).

Rasulullah SAW bersabda,”Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah”

Tidak lama kemudian datanglah anaknya yang ditawan itu sambil membawa seekor kambing (hasil rampasan dari musuh sewaktu melarikan diri). Hal ini segera dilaporkan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW kemudian bersabda,”Makanlah kambing itu”. (HR Al Hakim dan Jabir)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Auf bin Malik al Asyja’i menghadap kepada Rasulullah SAW dan berkata,”Anakku ditawan musuh, dan ibunya sangat gelisah. Apa yang akan engkau perintahkan kepadaku wahai Rasulullah?”

Rasulullah SAW. bersabda,”Aku perintahkan agar engkau dan istrimu memperbanyak mengucapkan ; Laa haula walaa quwwata ilaa billah”.

Lalu kemudian berkata istrinya,”Alangkah baiknya apa yang diperintahkan Rasul kepadamu.”

Lalu pasangan suami istri tersebut memperbanyak bacaan itu.
Di waktu musuh sedang lalai, anaknya yang ditawan itu berhasil kabur sambil membawa pulang kambing musuhnya ke rumah bapaknya. (HR Ibnu Mardawaih dan Al Khatib yang bersumber dari Ibnu Abbas)

Dari keterangan asbabun nuzul ayat diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa:

1. Allah akan memberi jalan keluar bagi hamba Nya yang bertaqwa kepada Nya.
2. Allah akan memberi pertolongan dan memudahkan urusan orang yang bertaqwa.
3. Allah akan mengabulkan hajat keperluan orang yang bertaqwa.
4. Allah akan memberikan rezeki yang tidak disangka-sangka kepada orang yang bertaqwa.

Tentang hal ini Rasulullah SAW pernah menjelaskan sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dzarrin ra.

Abu Dzarrin berkata,”Ketika Rasulullah SAW membaca QS At-Tholaq ayat 2-3 maka beliau terus mengulanginya sampai beliau mengantuk, lalu bersabda: Wahai Abu Dzarrin, seandainya semua manusia mengambilnya (mengamalkan ayat tersebut), maka sungguh ayat itu akan mencukupkan mereka.” (HR Ahmad, Nasa’i, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Ibnu Mardawaih dan Baihaqi)

Kemudian Nabi SAW juga menerangkan sebagaimana diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal ra.

Bahwa Rasulullah SAW. bersabda,”Wahai manusia, jadikan taqwa kepada Allah sebagai dagangan kalian! Niscaya rezeki akan mendatangi kalian dengan tanpa barang dagangan dan perdagangan.” Kemudian beliau SAW. membaca QS At-Tholaq 2-3. (HR Thabrani, Ibnu Mardawaih, Abu Na’im dan Dailami)

Sahabat Ibnu Abbas ra. pernah berkata,”Siapa yang membaca ayat-ayat ini di hadapan penguasa penguasa yang ia takuti kezhalimannya, atau ketika terjadi ombak yang ia takut tenggelam, atau ketika berhadapan dengan binatang buas, maka hal itu tidak akan membahayakan sedikitpun”. (Disebutkan As-Suyuthi dalam Kitab Durrul Mantsur)