TRIBUNNEWS.COM – Fadli Zon, politisi Partai Gerindra, tidak peduli dengan koleksinya benda-benda kuno dan bukunya yang sudah menggunung. Hingga kini belum ada tanda-tanda ia akan pensiun dari hobinya ini.
Istimewanya, Fadli Zon di kalangan kolektor dikenal sebagai kolektor rantai terakhir. Maksudnya, semua koleksi berhenti di tangannya, tidak akan dipindah atau dijual lagi. Begitu koleksi masuk museumnya, tidak akan pernah keluar lagi.

Ada puluhan ribu koleksi benda-benda sejarah dan buku. Masyarakat yang penikmat buku dan ilmu, bisa membaca sepuasnya. Banyak buku koleksi yang tidak bisa ditemukan di luaran, bisa dibaca di sini. Utamanya buku-buku sejarah kuno.

Bagi pengagum para tokoh, museum Fadli Zon Library menyediakan barang-barang yang bisa mentautkan dengan para tokoh. Misalnya lewat koleksi kacamata para tokoh nasional yang dipajang Fadli Zon Library. Ada kacamata Bung Hatta, Bung Syahrir, dan lain-lain.

Penikmat barang bertuah peninggalan kerajaan pun bisa menikmati hobinya di sini. Menikmati berbagai jenis senjata tajam, seperti keris dan tombak mulai zaman Mataram Hindu, Majapahit, Sriwijaya, Demak, hingga Mataram Islam. Belum lagi, berbagai mata uang zaman kerajaan nusantara hingga zaman VOC Belanda.

Fadli menyebut koleksinya itu untuk memenuhi hasrat hati dan kecintaan. Tidak terbersit keinginan untuk mencari keuntungan, apalagi menjualnya, meski harganya setinggi langit.

Pernah ada kolektor datang dan menawar koleksinya. Si kolektor menyebutkan angka rupiah hingga sembilan digit untuk satu benda koleksi. Namun, Fadli bergeming. Dia sama sekali tidak tertarik tawaran itu. Angka miliaran rupiah tidak cukup menggiurkannya. ”Berapapun (harga) yang dibuka, saya tidak pernah tergiur,” imbuhnya.

Fadli mempersembahkan koleksinya untuk diri dan masyarakat. Ia persilakan masyarakat datang dan menikmatinya. Tapi Fadli melarang mereka membawa keluar dari gedung, termasuk buku. Ia pasang delapan kamera pengintai agar koleksinya tidak keluar dari ruangan. ”Kamera saya aktif. Tidak seperti di Museum Nasional,” ujarnya sembari tertawa.

Putra pasangan (almarhum) Zon Harjo dan Hj. Ellyda Yatim ini menyindir hilangnya benda purbakala koleksi Museum Nasional. Sistem keamanan, terutama kamera pengintai yang mati selama setahun, dituding Fadli sebagai penyebab hilangnya koleksi meseum. (Surya/idl)

SUMBER ARTIKEL