Share info!
Memanfaatkan pengeluaran tagihan jadi penghasilan jutaan tanpa modal!

 

Petilasan Mbah Salak di Puncak Gunung Salak

Banyak masyarakat Bogor, Jawa Barat menganggap Gunung Salak merupakan tempat suci para leluhur sejak era kerajaan Pakuan Padjajaran. Makam kuno dan petilasan berumur ratusan tahun tersebar di seluruh kawasan.

Dari beberapa puncakan gunung, salah satu lokasi berada di puncak Gunung Salak 1 terdapat sebuah makam. Di makam tersebut tertuliskan “Makam Mbah Salak“.

Mbah Salak tersebut adalah Raden K.H Moh. Hasan. Beliau merupakan keturunan wali dari Syeikh Sunan Rochmat Eyang Prabu Kian Santang, anak dari Sri Baduga Maharaja, sang penguasa Jawa Barat.

Meski demikian, dari informasi yang dihimpun oleh HIMPALAUNAS.COM makam tersebut bukanlah tempat peristirahatan dari Mbah Salak.

“Makam ini bukan kuburan, makam ini merupakan salah satu tempat semedi Mbah Salak semasa hidupnya,” tutur Ahmad TBK salah satu relawan yang juga warga asli dari Cicurug, Sukabumi.

Makam yang berada di titik ketinggian 2.211 Mdpl ini jarang dikunjungi oleh para pendaki karena dipercaya angker. Apalagi ditambah dengan makam Pangeran Santri yang letaknya berada tak begitu jauh ke arah turun menuju Desa Girijaya, Cidahu yang juga dianggap angker.

Dari berbagai keterangan ahli sejarah Jawa Barat, di Gunung Salak terdapat banyak sekali tempat petilasan atau tempat bersemedi para raja dan pengikutnya. Petilasan suci itu tersebar di berbagai titik. Seperti petilasan milik raja Pakuan Padjajaran, Prabu Sri Baduga Maharaja di kaki Gunung Salak di daerah Bogor dengan total mencapai lebih dari 91 lokasi. Diperkirakan, bisa ratusan jumlahnya karena pertapa dalam agama Hindu menyucikan Gunung Salak.

Di sana juga terdapat makam kuno yang berusia ratusan tahun dengan jumlah mencapai lebih dari 40 makam. Makam itu milik pemuka agama Hindu yang wafat dan dikuburkan di Gunung Salak. Sehingga, banyak yang menganggap jika ingin memasuki wilayah Gunung Salak, harus menjaga perilaku dan sopan santun.

Banyak yang mengira nama Gunung Salak berasal dari nama tanaman Salak, akan tetapi sesunguhnya nama gunung ini berasal dari bahasa sansekerta “Salaka” yang berarti perak. Maka Gunung Salak bermakna “Gunung Perak.”

Budayawan dan Sejarawan Bogor, Eman Sulaeman mengemukakan diberbagai media, di kaki Gunung Salak pernah berdiri kerajaan Hindu pertama di Jawa Barat dengan nama Salakanagara pada abad ke-4 dan 5 Masehi.

Gunung Salak merupakan gunung berapi yang mempunyai dua puncak, yakni Puncak Salak I dan II. Letak astronomis puncak gunung ini ialah pada 6°43′ LS dan 106°44′ BT. Tinggi puncak Salak I, 2.211 meter dan Salak II, 2.180 meter dpl. Ada satu puncak lagi bernama Puncak Sumbul dengan ketinggian 1.926 meter dpl.

Letusan Gunung Salak

Diduga pernah terjadi letusan besar Gunung Salak (2211 m) pada tahun 1699. Akibat letusan ini telah merubah perwajahan gunung tersebut.

Letusan menyebabkan adanya belahan tengah, seperti yang terlihat dari jauh ada lembah besar yang menganga ke arah utara. Pada saat letusan besar ini batu batuan, pohon pohonan, lumpur lahar mengalir deras melalui Cisadane, dan sebagian sebaran batu batuan yang terlempar membuat daerah lereng dan kaki gunung bagian utara banyak terisi batu batuan seperti yang banyak dijumpai saat ini.

Letusan Gunung Salak berikutnya terjadi pada tahun 1761 dan 1780, namun kedua letusan ini tidak terlalu besar seperti letusan yang terjadi pada tahun 1699 sebelumnya itu.

Pada tahun 1834 terjadi gempa bumi (kemungkinan gempa volcanic juga) namun tidak tercatat adanya letusan gunung lagi. Gempa ini cukup kuat karena dapat merobohkan sebagian bangunan Governor Palace (Istana Bogor sekarang). Kemudian Governor Palace ini dibangun lagi dengan model yang bertahan dan terlihat sampai saat ini.

Beberapa kecelakaan pesawat yang pernah terjadi di sekitar Gunung Salak antara lain:

29 Oktober 2003

Helikopter Sikorsky S-58 jenis Twinpac dengan nomor H-3408 milik TNI Angkatan Udara jatuh di areal kebun kacang dan tanaman singkong di dalam pangkalan udara militer Atang Sanjaya, Bogor.

Pangkalan udara ini terletak di kaki Gunung Salak. Tujuh anggota TNI AU, yakni dua penerbang dan lima kru mekanik tewas seketika setelah helikopter buatan Amerika pada 1970 itu terhempas.

20 Juni 2004

Pesawat Cessna 185 Skywagon jatuh di Danau Lido, Cijeruk, Bogor. Atlet terjun payung bernama Edy Cristiono tewas dalam peristiwa itu.

26 Juni 2008

Pesawat Cassa TNI AU A212-200 jatuh di kawasan Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat. 18 Penumpang tewas akibat kecelakaan itu.

30 April 2009

Pesawat latih jenis Sundowner jatuh di daerah Tenjo, Bogor, Jawa Barat. Saat itu instruktur penerbang Nicholas Burung meninggal tak lama setelah kejadian, dalam perjalanan ke rumah sakit.

12 Juni 2009

Kecelakaan pesawat TNI kembali terjadi. Heli Puma milik TNI AU jatuh di kawasan Lanud Atang Sendjaja, Bogor. Dalam kecelakaan tersebut, 2 tentara mekanik tewas, sedangkan pilot Mayor (pnb) Sobic Fanani dan kopilot Lettu Wisnu, serta tiga anggota TNI lainnya mengalami luka.

9 Mei 2012

Pesawat Sukhoi Superjet 100 yang sedang melakukan joy flight hilang kontak di kawasan Gunung Salak, Bogor, 9 Mei 2012. Sehari setelahnya dipastikan pesawat Sukhoi buatan Rusia itu jatuh di lereng Gunung Salak.

Badan pesawat pecah berkeping-keping. Dalam pesawat tersebut, terdapat 45 penumpang, 8 di antaranya merupakan kru asal Rusia. (Pradana Starwinsyah/Sadam Pratama/man)

SUMBER ARTIKEL