MUSTIKA MULTI FUNGSI 2_Oleh : DR. Dwi Suryanto_

Siapa pembangun piramid yang pertama? Pharaoh Djoser. Kenalkah anda dengan nama-nama ini: Rembrant van Rijn, Marie Curie, Gabriel Garcia Marquez, Oprah?

Tidak diragukan lagi, mereka adalah pencapai prestasi-prestasi puncak. Orang lantas bertanya, apa rahasia kehebatan mereka?

Ada yang berpendapat bahwa kehebatan mereka tidak bisa ditiru karena mereka ‘titisan’ dari orang-orang dari Benua Atlantis yang hilang. Ada yang berspekulasi mereka adalah orang-orang dari angkasa luar (Alien) yang ‘menjelma’ dan hidup di bumi untuk memajukan bumi…

achievement

Mereka bahkan mengaitkan para pencapai prestasi puncak dengan orang Indian Inca di Peru, atau dengan pembangun Stonehenge (batu-batu raksasa) di Inggris, atau bahkan mereka termasuk dalam kelompok elit modern yang sekarang ini menguasai dunia…

Jika kita lihat mereka sebagai orang-orang super yang memang keturunan dari ‘ras’ yang hebat, maka tidak banyak yang kita bisa lakukan untuk meniru prestasi mereka.

Tapi para ahli mengamati bahwa mereka ‘hanyalah’ orang-orang biasa seperti kita. Yang berbeda hanyalah, mereka sudah belajar untuk hidup dan bekerja dengan penuh semangat dan ‘nafsu’. Mereka memilih bidang yang benar-benar mereka kuasai dan bertekun terus sehingga menghasilkan kinerja super…

Ketika mereka demikian ‘terbuai’ dalam kerja mereka, mereka seolah tenggelam dalam keadaan yang dinamakan ‘flow’. Saat itu, waktu seolah tidak bergerak. Mereka ‘terbius’ dan seolah tidak menyadari keadaan sekelilingnya. Pertanyaan, apakah kondisi ‘trance’ itu karena pengaruh Alien? Atau mereka menelan makanan atau minuman tertentu? Bagaimana mereka bisa mencapai kondisi seperti itu?

Adalah psikolog Mihaly Csikszentmihalyi (susah nyebut namanya ya…) yang mempelajari keadaan flow tersebut dalam bukunya ‘Flow: The Psychology of Optimal Experience.’

Ia menggambarkan flow sebagai ‘keadaan di mana orang demikian terlibat, terbetot, dalam aktivitas yang demikian penting sehingga aktivitas lainnya terasa sepele. Pengalaman itu sedemikian nikmatnya, enjoy-nya sehingga orang itu akan melakukannya lagi, bahkan jika harus membayar atau berupaya keras, hanya untuk mengulangi pengalaman tadi…’

Jadi para pencapai prestasi puncak itu mencapai keadaan flow bukan karena makan substansi tertentu atau dipengaruhi oleh makhluk gaib, tapi mereka melakukannya karena aktivitas itu menantang, menimbulkan gairah, dan ada ‘nikmatnya’…

Walau orang-orang menyangka bahwa untuk mencapai prestasi puncak lebih banyak karena bakat, atau bahkan karena asal mereka dari luar angkasa, ada beberapa peneliti yang mencoba menyingkap rahasia sukses mereka. Walau gagasan mereka sering ‘ditertawakan’ oleh komunitas sains, mari kita bahas penemuan mereka…

Para peneliti yang dimotori oleh Work & Family Institute, di Virginia, USA menemukan bahwa orang-orang yang berprestasi puncak karena memiliki kualitas pada: visi, fokus, values, nafsu, kecerdasan emosi, keseimbangan, dan ketekunan.

Visi

Orang-orang hebat itu berprestasi karena mereka memiliki visi. Visi di sini berarti mereka bisa melihat gambaran apa yang mereka inginkan. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka bisa ‘melihat’ gambaran seperti apa jika mereka sukses dalam kerja mereka. Mereka bisa rasakan bagaimana nantinya gambaran itu bisa tercapai. Ketika mereka beristirahat, mereka menghela nafas, dan ketika itu gambaran ideal tadi akan muncul mengisi ‘celah-celah’ pikiran mereka. Ini pula yang menjadi ‘motor’ dan ‘bensin’ yang menyalakan semangat mereka.

Tanpa visi, mereka merasa tidak ada energi. Mereka merasa hidupnya tidak memiliki arah, kurang mampu mendorong mereka untuk bergerak maju…

Visi itu unik bagi mereka. Mereka memperoleh visi bukan karena mereka diperintah orang. Mereka menemukan visi itu sendiri, kemudian visi itu dijadikan miliknya, dan selalu dimainkan sesering mungkin dalam pikirannya. Akibatnya, visi itu menjadi sedemikian jelas, jernih, dan mampu mendorong mereka untuk berjuang mewujudkan visi tersebut.
Focus

Pilar kedua dari prestasi puncak adalah fokus. Ketika visi berupa gambaran kira-kira apa yang akan terjadi ketika melaksanakan impian, fokus memusatkan energi dan perhatian pada aktivitas mencapai visi itu. Ketika mereka fokus, hal remeh temeh tidak terlalu mereka hiraukan. Jelas banyak hal yang tidak bisa mereka kerjakan. Mereka mungkin tidak bisa leha-leha seperti orang lain. Mungkin mereka tidak bisa menyalurkan hobinya yang lain, atau bahkan waktu mereka untuk keluarga sangat terbatas.

Hidup memang pilihan. Tapi begitu mereka menetapkan pilihan sesuai dengan visi mereka, mereka mengarahkan perhatian seperti suryakanta (kaca untuk menangkap sinar matahari) yang mampu membakar kertas…Bahkan fokus mereka seperti laser yang mampu menembus baja…

Jadi ketika anda ingin mencapai prestasi puncak, belajarlah untuk fokus, walau mungkin anda harus meninggalkan hobi dan kesenangan anda yang lain termasuk menonton televisi berkepanjangan..

Tata Nilai

Peraih prestasi puncak memiliki nilai-nilai sendiri yang mereka pegang teguh. Biasanya mereka tidak terlalu menghiraukan pendapat orang lain sepanjang yang mereka lakukan benar menurut mereka.

Mereka lebih mengabdi kepada kata hati mereka. Inilah sesungguhnya rahasia prestasi puncak. Ketika anda ingin mencapai prestasi puncak dan selalu saja mendengar omongan orang, langkah anda akan sering terhambat. Betapa pun juga sebaik apa pun anda, akan banyak orang yang tidak suka dengan prestasi anda. Mereka akan dengan senang hati melempar kritik yang bisa melemahkan anda. Oleh karenanya, ‘tebal mukalah’ untuk yang satu ini. Jangan hiraukan kritikan mereka…
Gairah Membara

Inilah sebabnya penting bagi peraih puncak untuk menentukan aktivitas dan visi yang bisa membuat mereka bergairah. Jelas itu bukanlah hanya masalah uang. Mereka anggap visi mereka sebagai pelita, lilin, suluh yang menghangatkan hati dan semangat mereka. Mereka tidak jemu-jemunya memikirkan, merenungkan, dan menceritakan hasrat mereka.

Ketika mereka bercerita tentang aktivitas mereka, dengarkan betapa mereka menceritakan dengan penuh nafsu, penuh gairah. Ini pula mengapa mereka sering tidak merasakan capek yang biasanya menyertai sebuah pekerjaan. Bagaimana bisa capek, bukankah melampiaskan nafsu sesuatu yang nikmat, yang membuat flow?

Kecerdasan Emosi

Kecerdasan emosi adalah pilar kelima dari prestasi puncak. Ini merupakan keahlian yang berupa waspada, awas terhadap emosi diri, mampu mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, dan memiliki ketrampilan sosial.

Kecerdasan emosi ini menurut banyak penelitian lebih penting bagi sukses seseorang dibanding hanya IQ. Ada yang berpendapat bahwa memang begitulah syarat agar kita bisa hidup dalam alam. Sebagai manusia yang makhluk sosial, manusia membutuhkan orang lain. Karena selalu bergaul dan membutuhkan orang lain, maka kemampuan bergaul, mengelola emosi, mengelola amarah yang tepat, empati menjadi penting.

Ketika peraih prestasi puncak sedang mengalami ‘down’ mereka bisa mundur sejenak, beristirahat dan kemudian bangkit lagi dengan emosi yang sudah tersegarkan. Karena mereka tidak mudah putus asa, maka wajar saja jika mereka mampu meraih prestasi puncak.

Keseimbangan

Peraih prestasi puncak, berdasar pengalaman hidupnya, menyadari bahwa di alam ini, segalanya berjalan seimbang. Ada siang, ada malam, ada lelaki, ada perempuan, ada bekerja ada istirahat.

Jadi ketika tubuh mulai ‘menyuruh’ istirahat, mereka beristirahat. Mereka tidak memaksakan badan dan pikiran mereka dalam kondisi tegang. Mereka beristirahat karena memang begitulah ritme alam.

Mereka juga terlibat dalam bidang-bidang lain agar kehidupannya seimbang. Mereka terlibat spiritualitas, keluarga, olah raga, relaksasi dsb. Intinya, mereka menyadari tanpa keseimbangan, hidup mereka akan kacau. Mereka umumnya menemukan hal itu karena pengalaman hidup mereka…

Ketekunan

Walau mereka juga beristirahat, namun mereka tetap tekun berjuang mewujudkan impian mereka. Mereka menyadari bahwa jika mereka terus berusaha, maka peluang untuk sukses juga lebih besar. Mereka juga belajar bahwa prestasi puncak yang dikenang dunia adalah hasil dari ketekunan yang tiada tara. Tembok China dibangun ratusan tahun yang meliputi berbagai generasi. Tembok itu mampu bertahan hingga kini karena hasil dari ketekunan orang-orang China di masa itu.

Kesimpulan

Jika anda ingin meraih prestasi puncak, sebaiknya pertimbangkan ke tujuh pilar sukses itu. Jadi prestasi puncak bukanlah karena keturunan Alien atau Atlantis, tapi orang-orang biasa yang terus berjuang dengan berlandaskan ke tujuh pilar itu. Selamat meraih prestasi puncak.

Salam
* DR. Dwi Suryanto, Ph.D adalah penulis buku Transformational Leadership: Terobosan Baru Menjadi Pemimpin Unggul. Ia seorang konsultan, trainer dan motivator yang mampu menghidupkan suasana rapat-rapat kerja menjadi suasana ceria, menginspirasi, dan membawa perubahan pada pesertanya…

SUMBER